Seminar Cita Persada: Pendidikan Karakter Anak Berawal dari Rumah

Seminar Cita Persada: Pendidikan Karakter Anak Berawal dari Rumah

“Nanti kalau Pak XYZ telepon, bilang Mama enggak ada, ya. Jangan lupa.”
“Nak, kamu nyalip antrean, gih. Biar dapet duluan. Kamu, kan, kecil. Enggak bakal ketahuan.”
“Lho, kok, nerabas lampu merah, Mas?” | “Ah, biarin aja. Mumpung lagi sepi dan enggak ada polisi.”


Sebagian orangtua mungkin pernah bablas melakukan hal-hal di atas. Parahnya, mereka melakukan di depan anak-anak. Sepintas kelihatannya tidak ada masalah, ya. Tapiii ... tanpa disadari, sebenarnya orangtua sedang mengajarkan anak berbohong, tidak tertib, dan melanggar aturan. Jika terus-menerus seperti ini berarti orangtua sedang mempersiapkan bom waktu yang berbahaya dalam diri anak-anak mereka di kemudian hari!

Hidih, kayaknya, kok, serius banget? Iya, ini memang serius! Seperti yang kita tahu, perkembangan karakter anak berawal dari rumah, dari pendidikan orangtua, nenek, kakek, nanny, dan orang-orang terdekat. Alhamdulillah, saya dan teman-teman blogger mendapat undangan seminar yang mengulik lebih dalam tentang menanamkan karakter anak dari sekolah Cita Persada, Cinere Raya, Depok (8/9).

“Character is our destiny. Karakter menentukan kesejahteraan sebuah bangsa,” demikian Ibu Ruth Maureen (Kepala Sekolah Cita Persada) membuka seminar.

1441781140465_wm.jpg

1441765252099_wm.jpg


Ada atau tidak ada orang yang melihat, kita tidak akan mengambil dompet yang bukan milik kita. Itulah karakter. Ada 48 kualitas karakter yang harus dipahami orangtua, yakni respect, honesty, responsibility, dst. Wah, banyak juga.

2015_09_09_09.02.50.jpg



Macam-macam karakter

Menurut para ahli, pendidikan karakter TIDAK DIPENGARUHI oleh waktu dan budaya. Zaman dulu atau sekarang mau orang Indonesia atau bule, pendidikan karakter tetap sama. Contoh, soal antre di mana-mana rule-nya sama, kok. Ya sama-sama kudu tertib! Jadi, jangan beralasan kalau orang bule bisa lebih tertib karena budayanya sono, misalnya. Oiya, ini beberapa poin yang sempat saya catat dari penjelasan Ibu Maureen.

1443173897.jpg
Ibu Ruth Maureen


1. Anak senang berkhayal dan melebih-lebihkan cerita. Jangan buru-buru mencap anak pembohong jika ternyata apa yang diceritakan anak tidak sesuai dengan kenyataan.
2. Hindari bertengkar dengan pasangan di depan anak. Tidak baik untuk karakter anak nantinya.
3. Jika ingin mengajari anak, sebaiknya satu suara. Jangan Teman-teman bilang A, suami bilang B. Orang dewasa aja mumet, apalagi anak. :p Sebaiknya diskusikan dulu apa yang harus disampaikan kepada anak.
4. Mau melarang anak? Beri penjelasan sederhana dan masuk akal. Tidak perlu menakut-nakuti lebay jablay babhaaay.
5. Minta anak agar langsung datang ketika dipanggil sekalipun anak sedang main atau melakukan hal lain yang digemarinya. Ketika anak meninggalkan kegiatannya untuk memenuhi panggilan kita berarti anak sedang belajar menguasai dirinya.
6. Ajak keluarga olahraga bareng. Olahraga bareng bukan cuma bikin sehat, tapi juga mengajarkan cara berkompetisi dan arti sportivitas kepada anak.
7. Kalau Teman-teman ditegur suami saat melakukan kesalahan, tanggapi secara positif. Anak bakal melihat dan meniru. Jangan jadikan anak-anak kita generasi anti-kritik.

8. Beri reward eksternal dan internal ketika anak melakukan sesuatu yang positif. Reward internal berupa pujian. Reward eksternal berupa uang, hadiah, cap star, dst. Kalau memberikan reward eksternal, jangan lupa tetap berikan reward internal.

9. Puji anak saat mereka melakukan hal positif. Bukan puji anak "cantik", "ganteng", dan sejenisnya. Pujian seperti ini mendidik anak menjadi pribadi sombong.
10. Hati-hati jika selalu memberikan kemudahan kepada anak dengan tujuan anak senang. Ingat, anak yang dimanja bukanlah anak yang bahagia. Kelak, anak yang dimanja akan sulit menguasai dirinya. Padahal, anak bakal terjun ke masyarakat dan bergaul dengan orang banyak.
11. Anak-anak yang sering jalan-jalan sama orangtuanya ke museum, konser, traveling dst insya Allah perkembangan mentalnya bagus (good bonding).

Yuk, simak video berikut ini. Karakter anak adalah cerminan orangtua dan orang-orang terdekatnya.



Setelah seminar, kami diajak keliling-keliling sekolah Cita Persada. Sekolah umum yang dibangun tahun 2005 ini memiliki jenjang pendidikan TK – SMP. Bahasa komunikasi sehari-hari adalah bahasa Inggris. Guru-gurunya ramah dan tampak energik. Pendidikan karakter diutamakan di sini. Contoh simpel, selesai makan anak-anak cuci piring sendiri. Fasilitas mulai dari perpustakaan, ruang komputer, laboratorium IPA, sampai kolam renang pun ada. Halamannya luas. Seru buat anak-anak main. Aih, jadi pengin gegoleran di rumput sambil ngomong menatap langit, “I feel free ....” *apa seh*

20150908_102746.jpg

20150908_104726.jpg

20150908_105029.jpg

20150908_104917.jpg



Satu pengetahuan lagi sebelum saya pulang nih, Teman-teman. Tidak seperti sekolah kebanyakan, sekolah Cita Persada urung memperbolehkan murid-muridnya sharing makanan. Tujuannya untuk mencegah hand-foot-and-mouth-disease (HFMD). HFMD merupakan infeksi viral yang ditularkan melalui tangan, kaki, dan mulut. Hari gini, penyakit semakin macam-macam aja, ya. Sebisa mungkin diantisipasi. Antisipasi bukan berarti parno berlebihan, lho. Soal sharing, bisa dalam hal lain, tidak harus berupa makanan. Saya sepakat!

IMG_20150908_WA0007.jpg
Bloggers visited Cita Persada school (foto milik @tikabanget)


Again, soal karakter, pastinya kita pengin anak kita bukan cuma punya pekerjaan bagus dan hidup mapan di masa depan. Kita juga pengin anak kita punya kepuasan terhadap dirinya sendiri dan memberikan kontribusi untuk masyarakat sekitar. Menurut Ibu Maureen yang jebolan University of Colorado USA ini, benih yang baik akan memberikan hasil panen yang baik. Sejatinya orangtua tidak bisa menanamkan karakter kepada anak cuma dengan cara menasihati dan mengingatkan. Beri teladan setiap saat di mana aja kapan aja sampai selama-lamanya. Enggak masuk akal, kan, kalau kita nyuruh anak beresin tempat tidur, sementara tempat tidur kita sendiri berantakan kayak pasar tumpah Kebayoran. Kebayang juga waktu kecil anak diajari bohong dan nilep, udah gede bisa-bisa jadi koruptor. Hiiiy ... naudzubillah min dzalik! Children see children do. Good character is caught more than it is taught! [] Haya Aliya Zaki